Rabu, 24 Agustus 2011

Usaha Peternakan Ayam Potong Pola Kemitraan

Usaha peternakan ayam potong terancam gulung tikar ketika kasus flu burung merebak di tanah air.  Para peternak harus merelakan ayam-ayamnya dimusnahkan untuk menghindari semakin merebaknya wabah tersebut. Tidak hanya ayam yang positif terinfeksi, ayam yang sehat pun juga harus dimusnahkan.

 

Para peternak terpaksa gigit jari karena tidak punya pilihan lain. Begitu pula dengan konsumen. Untuk sekian lama mereka menghindari mengkonsumsi segala jenis makanan yang menggunakan bahan dasar ayam. Walhasil, usaha peternakan ayam potong kian lesu bahkan semakin terpuruk.

 

Untungnya kasus flu burung bisa segera mereda. Usaha peternakan ayam potong secara perlahan kembali bangkit. Hal ini seiring dengan laju permintaan konsumen terhadap daging ayam potong yang berangsur-angsur mulai normal. Para peternak, khususnya peternak mandiri, kini bisa sedikit lega. Para peternak mandiri memang pihak yang paling merugi saat kasus flu burung mewabah.

Mereka yang selama ini menggerakkan usaha dengan modal sendiri akan langsung terkena imbasnya begitu usaha peternakan ayam potong mengalami guncangan. Untuk meminimalisasi risiko kerugian yang harus ditanggung peternak mandiri, kini mulai marak dikembangkan usaha dengan pola kemitraan. Pola kemitraan melibatkan kerja sama yang saling menguntungkan antara peternak sebagai plasma dan pemilik modal (pabrikan) sebagai inti. Oleh karena itu pola kemitraan ini juga sering disebut dengan istilah plasma inti.

Ada tiga jenis pola kemitraan dalam usaha peternakan ayam potong, yakni: (1) Sistim kemitraan harga kontrak. Harga yang berlaku dalam sistim ini adalah yang telah disepakati dalam perjanjian. Jadi harga tidak terpengaruh oleh fluktuasi harga pasar. Jika terjadi kerugian termasuk keteledoran peternak, maka kerugian ditanggung oleh plasma (peternak). Sedangkan kerugian yang khusus diakibatkan oleh wabah penyakit dan musibah alam, akan menjadi tanggungan inti (pemilik modal);

(2) Sistim kemitraan bagi hasil. Dalam hal ini harga telah ditentukan terlebih dulu di awal perjanjian. Jika terjadi kerugian, maka akan menjadi tanggungan kedua belah pihak. Adapun harga panen disesuaikan dengan harga pasar dengan ketentuan pihak inti mengupayakan agar pihak plasma tetap mendapatkan keuntungan;

(3) Sistim kemitraan makloon. Dalam sistim ini pihak inti menanggung seluruh biaya operasional begitu pula jika terjadi kerugian. Mekanisme harga mengikuti harga pasar.

3 komentar:

  1. INFO:
    Suplemen Organik Tanaman (SOT) produk PT HCS Sidoarjo, untuk
    meningkatkan hasil produksi pangan tanpa pupuk kimia, lebih hemat,
    hasil meningkat dan hama terkendali.
    Suplemen Organik Cair (SOC) untuk segala ternak akan lebih meningkat
    penghasilannya, menurun biayanya, dan lebih aman dikonsumsi dagingnya
    karena organik. Lagi pula kotorannya tidak berbau.
    Selengkapnya buka http://hcssukses.blogspot.com/p/produk.html.

    BalasHapus
  2. Menurut Dr.Hiromi Sinya, MD “Kualitas hasil tanaman yang kita makan ditentukan oleh kualitas tanah tempat tumbuhnya“ Berarti dengan pola kimia dan penurunan mineral tanah yakni unsur hara maka tanaman pertanian pada saat ini sangat rendah mineral dan gizinya untuk dikonsumsi sehingga tidak heran ada pepatah yang menyindir penduduk negeri ini “seperti unta yang mati kehausan di padang pasir padahal di pundaknya terdapat kantong air”. Tanahnya luas dan subur tapi tidak bisa memanfaatkan dengan maksimal. Buktinya masih mendatangkan bahan makanan pokok dari luar negeri.
    Siapa yang bertanggung jawab terhadap semua ini??
    Seorang pejuang adalah mereka yang tidak mengkambing hitamkan satu sama lain tetapi mereka selalu mencari dan menciptakan solusi terhadap persoalan yang terjadi.
    Dalam hal ini PT.Hidup Cerah Sejahtera (HCS) Sidoarjo memberikan solusi terhadap semua ini dengan konsep ”Pertanian Berkelanjutan“ mengajak masyarakat untuk back to nature dan go to organic mewujudkan kelestarian alam dan mengembalikan kesuburan bumi pertiwi menuju masyarakat Sehat , Mandiri dan Sukses.
    PT tersebut memproduksi dan memasarkan 2 produk Suplemen Organik :
    (1) Suplemen Organik Tanaman (SOT) produksi PT HCS Sidoarjo, untuk meningkatkan hasil produksi pangan (segala tanaman) tanpa pupuk kimia, lebih hemat, hasil meningkat dan hama terkendali.
    (2) Suplemen Organik Cair (SOC) untuk segala ternak/ikan agar lebih meningkat penghasilannya, lebih ringan biayanya, lebih aman dikonsumsi dagingnya karena organik dan menghilangkan bau kotorannya (ramah lingkungan).
    Agar aplikasinya sesuai dengan aturan dan bisa terwujud harapan dengan hasil yang maksimal diselenggarakanlah pelatihan-pelatihan GRATIS. Selengkapnya buka http://hcssukses.blogspot.com/p/produk.html.

    BalasHapus
  3. bagaimana cara mendapatkan kemitraan dari perusahaan?

    BalasHapus