Senin, 10 Oktober 2011

Mengenal Sistim Pemeliharaan Ayam Kampung

Ayam kampung merupakan jenis unggas yang pada awal pemeliharaannya tidak ditujukan untuk budidaya komersil. Istilah ayam kampung sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Kutai berkuasa.

Pada masa itu masyarakat beternak ayam kampung dalam rangka persembahan bagi raja. Yakni sebagai upeti dari masyarakat untuk pihak kerajaan.
Ayam kampung memiliki sejumlah varietas dan spesies. Di antaranya adalah ayam kedu (hitam, cemani, putih, merah), ayam nunukan, ayam pelung, ayam sumatra, ayam belenggek, dan ayam gaok.

Daging ayam kampung digemari banyak orang karena memiliki kandungan asam amino esensial yang tinggi, rendah lemak, dan kaya akan protein. Selain itu rasanya juga lebih gurih dan teksturnya lebih kenyal jika dibandingkan dengan ayam potong. Oleh karena itu daging ayam kampung sering diolah menjadi berbagai jenis masakan yang berbahan dasar ayam.
Model pemeliharaan ayam kampung yang selama ini sering dikembangkan masyarakat adalah dengan sistim ekstensif (tradisional) dan sistim intensif.

Kedua model pemeliharaan tersebut masing-masing memiliki kelemahan serta keunggulan. Pada sistim ekstensif, ayam dibiarkan bebas berkeliaran di tempat terbuka. Model pemeliharaan seperti ini biasanya dikembangkan oleh masyarakat pedesaan karena dinilai bisa menghemat biaya pakannya. Peternak biasanya cukup memberikan pakan pada pagi hari saja dengan sisa nasi yang telah dicampur bekatul. Selanjutnya, ayam bebas mencari makan sendiri. Ayam yang dibiarkan bebas berkeliaran ini rata-rata memiliki tingkat kekebalan yang lumayan bagus namun tingkat produktifitasnya cenderung rendah.

Sebaliknya, model pemeliharaan dengan sistim intensif memang membutuhkan modal tambahan. Seperti biaya untuk penyediaan kandang, pemberian pakan secara teratur, serta pemeliharaan kesehatannya.

Dengan cara ini perkembangan ayam mudah dikontrol. Tingkat produktifitasnya pun bisa dinaikkan dengan menggunakan bantuan mesin penetas telur.

Akibatnya, jumlah populasinya bisa bertambah dengan cepat sehingga masa panennya pun bisa dipersingkat. Hanya saja pemeliharaan sistim intensif memang membutuhkan kecermatan dan ketelatenan. Utamanya dalam menjaga kebersihan kandang, sanitasi, pemberian pakan yang rutin dan berkualitas serta upaya pemeliharaan kesehatan ayam. Jika hal ini diabaikan, walhasil produktifitas ayam kampung akan turun drastis. Bahkan peternak terancam rugi besar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar